Pertama-tama sebelum membaca lebih lanjut artikel ini, beberapa hal perlu diklarifikasi:
- Penulis tidak mempromosikan suatu agama atau kepercayaan tertentu, tetapi lebih melakukan refleksi pada masyarakat di sekitar penulis yang sarat akan ke-Kristen-an; ke-Kristen-an menjadi tokoh antagonis utama dalam topik ini.
- Latar belakang permasalahanyang dipaparkan berada dalam ruang lingkup Eropa dan Amerika Serikat, mungkin ada beberapa posisi atau perspektif yang tidak sesuai dengan kondisi Asia, khususnya Indonesia.
Saat dunia sedang panas-panasnya dengan kaum ekstrimis agama dan politik, dunia sains memiliki ‘perang’ tersendiri yang cukup panas dalam 10 tahun kebelakang. Natal 2007 menjadi sebuah momen yang unik di Eropa, khususnya di Dundee, Skotlandia. Annual Christmas Lecture 2007 dari University of Dundee dan Dundee City Council bertajuk, “Why Evolutionism is Right and Creationism is Wrong” (Mengapa Evolusionisme Benar dan Penciptaan Salah) dari Steve Jones, pakar genetika terkemuka Inggris.
Beberapa kalangan masyarakat dan gereja berkeberatan dengan topik tersebut mengingat momen Natal dengan topik yang anti-agama. Tak pelak lagi, Steve Jones berargumen bahwa evolusi yang dipaparkan Darwin sudah menjelaskan eksistensi manusia di muka bumi jadi manusia tidak perlu lagi mencari-cari ‘kambing hitam’ atas pertanyaan eksistensi manusia. Steve Jones bersikukuh bahwa ‘tuhan’ tidak diperlukan dalam hidup manusia. Umat manusia sudah sepatutnya atheists di tengah perkembangan teknologi dan sains yang sangat maju.
Richard Dawkins, profesor Public Understanding of Science Oxford University, telah galak mengkampanyekan ide-ide atheisme berdasarkan evolusi sejak 1976 melalui bukunya yang berjudul “The Selfish Gene” (Gen Egois) hingga terakhir dalam “God Delusion” (Buaian Tuhan) di tahun 2006. Ia memiliki logika:
- Manusia percaya pada Tuhan karena tidak dapat menjelaskan keberadaan mereka di bumi yangakhirnya dijelaskan oleh penciptaan bumi dalam 6 hari pada Kitab Kejadian (Alkitab)
- Evolusi Darwin sudah menjelaskan proses penciptaan dan keberadaaan Manusia
Kesimpulannya: manusia tidak perlu lagi percaya akan Tuhan.
Dawkins menambahkan bahwa sains sudah mampu menjelaskan banyak pertanyaan yang 2000 tahun lalu tidak terjawab seperti anak pengidap epilepsi dan bukanlah kerasukan setan. Percaya pada Tuhan tidaklah berbeda dengan percaya dengan Santa Claus atau dongeng-dongeng mimpi lainnya. Sains dipercaya mampu memberikan jawaban atas semua pertanyaan manusia, mungkin tidak sekarang tapi pasti suatu saat nanti. Argumen ini didukung juga oleh Christopher Hitchens dan tokoh-tokoh American Humanists Association.
Teoritis
Di lain pihak, beberapa tokoh seperti Ken Ham, Dr. Dino, dan banyak kaum penginjil di Amerika Serikat bersikukuh pada proses penciptaan 6 hari seperti tafsiran literal Alkitab atau Harun Yahya dari kaum Muslim. Mereka berargumen bahwa evolusi masih bersifat ‘teoritis’ karena hingga saat ini, evolusi masih belum menjawab proses terbentuknya sel dari sup organik secara meyakinkan.
Debat ini tidak behenti sampai di situ, terdapat pula orang-orang seperti CS Lewis, Alister McGrath, dan Francis Collins yang memiliki argumen bahwa evolusi merupakan suatu bukti ke-mahakuasa-an Tuhan. Alister McGrath, Professor Scientific Theology Universitas Oxford, beragumen bahwa sains tetaplah sebuah ‘alat’ yang terbatas. Menurutnya, justru lewat sains ia mampu melihat kebesaran Tuhan. Francis Collins, project leader Human Genome Project, malah meyakini bahwa evolusi adalah cara Yang Kuasa menciptakan manusia atau lebih popular dengan sebutan Theistic Evolution.
Perbedaan pandangan yang kian meruncing diantara atheistic-scientists and believer-scientists merambat tidak hanya pada debat terbuka tetapi sudah memasuki diskriminasi di Eropa dan Amerika Serikat. Kaum atheistic-scientists diam-diam menghambat para calon mahasiswa sains yang dikategorikan ‘believer’. Bagi mereka, ‘believer’ hanyalah orang-orang yang tidak memiliki intelektual sains. Ironisnya, sains mulai berkembang dengan menunggangi pergerakan Protestanisme sesaat setelah Jaman Kegelapan (Dark Age) di Eropa.
Diskriminasi
Michael Moore boleh memiliki film dokumenter “9/11 Fahrenheit” atau “Sicko”, kini giliran Ben Stein menguak ‘konspirasi kaum biologi intelektual’ dalam “Expelled: No Intelligence Allowed”. Diskriminasi ini malah oleh beberapa pakar sosiologi akan mempengaruhi proses pemberian dana riset dan pada jangka panjang berujung di Asia dimana populasinya jatuh dalam kategori ‘believer’.
Nah bagaimana dengan Anda? Seberapa jauh Anda, sebagai saintis akan melangkah? Kaum atheistic-scientists mungkin membenci para fundamentalis agama, walaupun kini mereka seolah-olah berusaha menjadi NAZI atau Al-Qaeda secara tidak langsung. Menjadi fundamentalis – yakin bahwa merekalah yang paling benar. Isu yang mungkin belum ‘hot’ di Indonesia ini bisa menjadi satu refleksi tersendiri bagi masyarkat kita yang majemuk. Akhir kata, saya sedikit mengutip Albert Einstein, “Science without religion is blind, religion without science is lame.” (Sains tanpa agama adalah buta, agama tanpa sains adalah membosankan).
Referensi singkat:
1. Ben Stein to battle `anti-religious dogmatism`, Bill Berkowitz, Top Scoops, Scoop Independent News, 11 September 2007.
2. http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1211593,00.html
3. Francis Collins, The Language of God, 2006
4. Alister McGrath, Dawkins Delusion, 2007
5. Richard Dawkins, God Delusion, 2006
6. http://www.expelledthemovie.com/playground.php
Apakah hal diatas juga terjadi di negara yang kita cintai ini….??? jika dilihat dari banyak hal atau berita ttg Agama sepanjang Tahun 2007 mungkin kita tdk menyadari bahwa itu merupakan suatu kenyataan..
Artikel diatas tidk mengandung SARA tetapi hanya ingin memberikan info ttg gimana sebenarnya Sains itu di mata Agama dan Logika kita…
Info At Netsains.com
ok mantab juga tulisan disini ya. buat dong google adsensenya biar dapat duit gitu
waduh …. google adsense …. sorry bro…domain nya free…jadi kagak bisa gabung digoogle adsense….ntar kiat migrasi dulu ke yang berbayar ya…
Anda terlalu berlebihan mengatakan mereka “menjadi Nazi dan Al Qaeda”. Mmm, kapan Dawkins, Dennet dan Harris pernah membantai — at least berpikiran ingin membunuh — orang lain seperti Hitler dan Bin Laden, eh?
Nih baca apa yang Dawkins tulis:
My own view, frequently expressed (for example in the The Selfish Gene and especially in the title chapter of A Devil’s Chaplain) is that there are two reasons why we need to take Darwinian natural selection seriously. Firstly, it is the most important element in the explanation for our own existence and that of all life. Secondly, natural selection is a good object lesson in how NOT to organize a society.
As I have often said before, as a scientist I am a passionate Darwinian. But as a citizen and a human being, I want to construct a society which is about as un-Darwinian as we can make it. I approve of looking after the poor (very un-Darwinian). I approve of universal medical care (very un-Darwinian).
It is one of the classic philosophical fallacies to derive an ‘ought’ from an ‘is’. Stein (or whoever wrote his script for him) is implying that Hitler committed that fallacy with respect to Darwinism.
If we look at more recent history, the closest representatives you’ll find to Darwinian politics are uncompassionate conservatives like Margaret Thatcher, George W Bush, or Ben Stein’s own hero, Richard Nixon. Maybe all these people, along with the Social Darwinists from Herbert Spencer to John D Rockefeller, committed the is/ought fallacy and justified their unpleasant social views by invoking garbled Darwinism.
Anyone who thinks that has any bearing whatsoever on the truth or falsity of Darwin’s theory of evolution is either an unreasoning fool or a cynical manipulator of unreasoning fools. (Richard Dawkins, “Lying for Jesus”)
Oh, maksudnya menjadi fundamentalis = menjadi yang yakin merekalah yang paling benar? Kenapa harus mengambil contoh Nazi dan Al Qaeda? Dan di mana anda mengatakan hal yang sama terhadap Alister McGrath?
I never tire of emphasising how much we don’t know. The God Delusion ends in just such a theme. Where do the laws of physics come from? How did the universe begin? Scientists are working on these deep problems, honestly and patiently. Eventually they may be solved. Or they may be insoluble. We don’t know.
But whereas I and other scientists are humble enough to say we don’t know, what of theologians like McGrath? He knows. He’s signed up to the Nicene Creed. The universe was created by a very particular supernatural intelligence who is actually three in one. Not four, not two, but three. Christian doctrine is remarkably specific: not only with cut-and-dried answers to the deep problems of the universe and life, but about the divinity of Jesus, about sin and redemption, heaven and hell, prayer and absolute morality. And yet McGrath has the almighty gall to accuse me of a “glossy”, “quick fix”, naive faith that science has all the answers.
Other theologies contradict the Christian creed while matching it for brash overconfidence based on zero evidence. McGrath presumably rejects the polytheism of the Hindus, Olympians and Vikings. He does not subscribe to voodoo, or to any of thousands of mutually contradictory tribal beliefs. Is McGrath an “ideological fanatic” because he doesn’t believe in Thor’s hammer? Of course not. Why, then, does he suggest I am exactly that because I see no reason to believe in the particular God whose existence he, lacking both evidence and humility, positively asserts? (Richard Dawkins, “My critics are wrong to call me dogmatic”)