<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Matematika Ekstension - USU &#187; Tahukah Anda?</title>
	<atom:link href="http://math.antarmedia.com/usu/category/tahukah-anda/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://math.antarmedia.com/usu</link>
	<description>Re // Search - Used</description>
	<lastBuildDate>Sun, 28 Nov 2010 00:12:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Bing.com Sepertinya Lebih Menarik</title>
		<link>http://math.antarmedia.com/usu/2009/06/11/aaa/</link>
		<comments>http://math.antarmedia.com/usu/2009/06/11/aaa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 16:27:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Tahukah Anda?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://math.antarmedia.com/usu/2009/06/11/aaa/</guid>
		<description><![CDATA[Mesin pencari besutan Microsoft yang satu ini menjadi primadona dengan mengeyampingkan paman Google untuk memenuhi kebutuhan pencarian gambar/image untuk tulisan yang aku sisipkan di warungreklame.com. Meskipun sempat terdengar desas-desus akan diblokir aksesnya dari negeri ini karena isi yang ditampilkan benar-benar &#8230; <a href="http://math.antarmedia.com/usu/2009/06/11/aaa/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mesin pencari besutan Microsoft yang satu ini menjadi primadona dengan mengeyampingkan paman Google untuk memenuhi kebutuhan pencarian gambar/image untuk tulisan yang aku sisipkan di warungreklame.com. Meskipun sempat terdengar desas-desus akan diblokir aksesnya dari negeri ini karena isi yang ditampilkan benar-benar apa adanya. Menggali data-data yang tersebar di internet, dan ditampilkan dengan gratis oleh si Bing.com. Hmmm&#8230;</p>
<p>Anda mungkin punya pengalaman lain dengan mesin yang masih dalam masa pengembangan ini. Selamat berburu <img src='http://math.antarmedia.com/usu/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://math.antarmedia.com/usu/2009/06/11/aaa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Saintis Berevolusi Menjadi &#8220;NAZI&#8221;</title>
		<link>http://math.antarmedia.com/usu/2008/01/06/ketika-saintis-berevolusi-menjadi-nazi/</link>
		<comments>http://math.antarmedia.com/usu/2008/01/06/ketika-saintis-berevolusi-menjadi-nazi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2008 10:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gudie Nst</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tahukah Anda?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://math.antarmedia.com/usu/2008/01/06/ketika-saintis-berevolusi-menjadi-nazi/</guid>
		<description><![CDATA[Pertama-tama sebelum membaca lebih lanjut artikel ini, beberapa hal perlu diklarifikasi: Penulis tidak mempromosikan suatu agama atau kepercayaan tertentu, tetapi lebih melakukan refleksi pada masyarakat di sekitar penulis yang sarat akan ke-Kristen-an; ke-Kristen-an menjadi tokoh antagonis utama dalam topik ini. &#8230; <a href="http://math.antarmedia.com/usu/2008/01/06/ketika-saintis-berevolusi-menjadi-nazi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><img src="http://www.netsains.com/index.php/oth_info+file/fn_1+20071231+1199061883" align="left" height="167" width="225" /> Pertama-tama sebelum membaca lebih lanjut artikel ini, beberapa hal perlu diklarifikasi:</p>
<ul>
<li>  Penulis tidak mempromosikan suatu agama atau  kepercayaan tertentu, tetapi lebih melakukan refleksi pada masyarakat di sekitar penulis yang sarat akan ke-Kristen-an; ke-Kristen-an menjadi tokoh antagonis utama dalam topik ini.</li>
</ul>
<p align="left">&nbsp;</p>
<ul>
<li>Latar belakang permasalahanyang dipaparkan berada dalam ruang lingkup Eropa dan Amerika Serikat, mungkin ada beberapa posisi atau perspektif yang tidak sesuai dengan kondisi Asia, khususnya Indonesia.</li>
</ul>
<p>Saat dunia sedang panas-panasnya dengan kaum ekstrimis agama dan politik, dunia sains  memiliki ‘perang’ tersendiri yang cukup panas dalam 10 tahun kebelakang. Natal 2007 menjadi sebuah momen yang unik di Eropa, khususnya di Dundee, Skotlandia. Annual Christmas Lecture 2007 dari University of Dundee dan Dundee City Council bertajuk, <em>“Why Evolutionism is Right and Creationism is Wrong”</em> (Mengapa Evolusionisme Benar dan Penciptaan Salah) dari Steve Jones, pakar genetika terkemuka Inggris.</p>
<p><span id="more-23"></span></p>
<p>Beberapa kalangan masyarakat dan gereja berkeberatan dengan topik tersebut mengingat momen Natal dengan topik yang anti-agama. Tak pelak lagi, Steve Jones berargumen bahwa evolusi yang dipaparkan Darwin sudah menjelaskan eksistensi manusia di muka bumi jadi manusia tidak perlu lagi mencari-cari ‘kambing hitam’ atas pertanyaan eksistensi manusia. Steve Jones bersikukuh bahwa ‘tuhan’ tidak diperlukan dalam hidup manusia. Umat manusia sudah sepatutnya atheists di tengah perkembangan teknologi dan sains yang sangat maju.</p>
<p>Richard Dawkins, profesor Public Understanding of Science Oxford University, telah galak mengkampanyekan ide-ide atheisme berdasarkan evolusi sejak 1976 melalui bukunya yang berjudul “The Selfish Gene” (Gen Egois) hingga terakhir dalam “God Delusion” (Buaian Tuhan) di tahun 2006. Ia memiliki logika:</p>
<ul>
<li>Manusia percaya pada Tuhan karena tidak dapat menjelaskan keberadaan mereka di bumi yangakhirnya dijelaskan oleh penciptaan bumi dalam 6 hari pada Kitab Kejadian (Alkitab)</li>
<li>Evolusi Darwin sudah menjelaskan proses penciptaan dan keberadaaan Manusia</li>
</ul>
<p>Kesimpulannya: manusia tidak perlu lagi percaya akan Tuhan.</p>
<p>Dawkins menambahkan bahwa sains sudah mampu menjelaskan banyak pertanyaan yang 2000 tahun lalu tidak terjawab seperti anak pengidap epilepsi dan bukanlah kerasukan setan. Percaya pada Tuhan tidaklah berbeda dengan percaya dengan Santa Claus atau dongeng-dongeng mimpi lainnya. Sains dipercaya mampu memberikan jawaban atas semua pertanyaan manusia, mungkin tidak sekarang tapi pasti suatu saat nanti. Argumen ini didukung juga oleh Christopher Hitchens dan tokoh-tokoh American Humanists Association.</p>
<p><strong>Teoritis</strong></p>
<p>Di lain pihak, beberapa tokoh seperti Ken Ham, Dr. Dino, dan banyak kaum penginjil di Amerika Serikat bersikukuh pada proses penciptaan 6 hari seperti tafsiran literal Alkitab atau Harun Yahya dari kaum Muslim. Mereka berargumen bahwa evolusi masih bersifat ‘teoritis’ karena hingga saat ini, evolusi masih belum menjawab proses terbentuknya sel dari sup organik secara meyakinkan.</p>
<p>Debat ini tidak behenti sampai di situ, terdapat pula orang-orang seperti CS Lewis, Alister McGrath, dan Francis Collins yang memiliki argumen bahwa evolusi merupakan suatu bukti ke-mahakuasa-an Tuhan. Alister McGrath, Professor Scientific Theology Universitas Oxford, beragumen bahwa sains tetaplah sebuah ‘alat’ yang terbatas. Menurutnya, justru lewat sains ia mampu melihat kebesaran Tuhan. Francis Collins, project leader Human Genome Project, malah meyakini bahwa evolusi adalah cara Yang Kuasa menciptakan manusia atau lebih popular dengan sebutan <em>Theistic Evolution</em>.</p>
<p>Perbedaan pandangan yang kian meruncing diantara <em>atheistic-scientists</em> and <em>believer-scientists</em> merambat tidak hanya pada debat terbuka tetapi sudah memasuki diskriminasi di Eropa dan Amerika Serikat. Kaum atheistic-scientists diam-diam menghambat para calon mahasiswa sains yang dikategorikan ‘believer’. Bagi mereka, ‘believer’ hanyalah orang-orang yang tidak memiliki intelektual sains. Ironisnya, sains mulai berkembang dengan menunggangi pergerakan Protestanisme sesaat setelah Jaman Kegelapan (<em>Dark Age</em>) di Eropa.</p>
<p><strong>Diskriminasi</strong></p>
<p>Michael Moore boleh memiliki film dokumenter “9/11 Fahrenheit” atau “Sicko”, kini giliran Ben Stein menguak ‘konspirasi kaum biologi intelektual’ dalam “Expelled: No Intelligence Allowed”. Diskriminasi ini malah oleh beberapa pakar sosiologi akan mempengaruhi proses pemberian dana riset dan pada jangka panjang berujung di Asia dimana populasinya jatuh dalam kategori <em>‘believer’.</em></p>
<p>Nah bagaimana dengan Anda? Seberapa jauh Anda, sebagai saintis akan melangkah? Kaum <em>atheistic-scientists</em> mungkin membenci para fundamentalis agama, walaupun kini mereka seolah-olah berusaha menjadi NAZI atau Al-Qaeda secara tidak langsung. Menjadi fundamentalis – yakin bahwa merekalah yang paling benar. Isu yang mungkin belum ‘hot’ di Indonesia ini bisa menjadi satu refleksi tersendiri bagi masyarkat kita yang majemuk. Akhir kata, saya sedikit mengutip Albert Einstein, “Science without religion is blind, religion without science is lame.” (Sains tanpa agama adalah buta, agama tanpa sains adalah membosankan).</p>
<p align="left"> <em> Referensi singkat:</em><br />
<em> </em><br />
<em>    1. Ben Stein to battle `anti-religious dogmatism`, Bill Berkowitz, Top Scoops, Scoop Independent News, 11 September 2007.</em><br />
<em>    2. http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1211593,00.html</em><br />
<em>    3. Francis Collins, The Language of God, 2006</em><br />
<em>    4. Alister McGrath, Dawkins Delusion, 2007</em><br />
<em>    5. Richard Dawkins, God Delusion, 2006</em><br />
<em>    6. http://www.expelledthemovie.com/playground.php</em></p>
<p align="left">Apakah hal diatas juga terjadi di negara yang kita cintai ini&#8230;.??? jika dilihat dari banyak hal atau berita ttg Agama sepanjang Tahun 2007 mungkin kita tdk menyadari bahwa itu merupakan suatu kenyataan..</p>
<p align="left">Artikel diatas tidk mengandung SARA tetapi hanya ingin memberikan info ttg gimana sebenarnya Sains itu di mata Agama dan Logika kita&#8230;</p>
<p align="left">Info At <a href="http://www.netsains.com/index.php/page_info/pid_355" target="_blank">Netsains.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://math.antarmedia.com/usu/2008/01/06/ketika-saintis-berevolusi-menjadi-nazi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Open Course Ware (OCW) &#8211; Indonesia</title>
		<link>http://math.antarmedia.com/usu/2007/07/30/open-course-ware-ocw-indonesia/</link>
		<comments>http://math.antarmedia.com/usu/2007/07/30/open-course-ware-ocw-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jul 2007 11:09:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Tahukah Anda?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://math.antarmedia.com/usu/2007/07/30/open-course-ware-ocw-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Selain dapat diakses langsung ke website resmi MIT  mapun USU (Utah State University) Bersyukur Open Course Ware (OCW) telah diduplikasi jaringan local. Silahkan untuk bagi pengguna jaringan OpenIXP, INHERENT &#8211; dapat lebih cepat mengkases materi-materi open course ware. Terima kasih &#8230; <a href="http://math.antarmedia.com/usu/2007/07/30/open-course-ware-ocw-indonesia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selain dapat diakses langsung ke website resmi<a href="http://ocw.mit.edu/index.html" title="Open Course Ware - MIT"> MIT</a>  mapun <a href="http://ocw.usu.edu/" title="Open Course Ware - USU">USU (Utah State University)</a></p>
<p>Bersyukur Open Course Ware (OCW) telah diduplikasi jaringan local. Silahkan untuk bagi pengguna jaringan OpenIXP, INHERENT &#8211; dapat lebih cepat mengkases materi-materi <em>open course ware. </em>Terima kasih kepada pihak Depkominfo. <a href="http://ocw.web.id/" title="OpenCourseWare - Indonesia">http://ocw.web.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://math.antarmedia.com/usu/2007/07/30/open-course-ware-ocw-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Serangkai Master Enkripsi Data</title>
		<link>http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/19/rivest-shamir-adleman-tiga-serangkai-master-enkripsi-data/</link>
		<comments>http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/19/rivest-shamir-adleman-tiga-serangkai-master-enkripsi-data/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jun 2007 03:32:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tahukah Anda?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/19/rivest-shamir-adleman-tiga-serangkai-master-enkripsi-data/</guid>
		<description><![CDATA[Sekali membicarakan transaksi internet dipastikan kita harus menyinggung keamanan data. Selanjutnya, keamanan data online tanpa enkripsi adalah kemustahilan. Akhirnya bila sampai ke enkripsi data menyebut akronim &#8220;RSA&#8221; terasa bagai refleks, hampir otomatis. RSA Security adalah nama besar dalam dunia proteksi &#8230; <a href="http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/19/rivest-shamir-adleman-tiga-serangkai-master-enkripsi-data/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#000000" face="helvetica" size="2">Sekali membicarakan transaksi internet dipastikan kita harus menyinggung keamanan data. Selanjutnya, keamanan data online tanpa enkripsi adalah kemustahilan. Akhirnya bila sampai ke enkripsi data menyebut akronim &#8220;RSA&#8221; terasa bagai refleks, hampir otomatis.</font></p>
<p><span id="more-7"></span></p>
<p align="justify"> <font color="#000000" face="helvetica" size="2">RSA Security adalah nama besar dalam dunia proteksi data online. Penemu dari inti teknologi keamanan data internet, perusahaan ini menguasai mayoritas pasar teknologi otentifikasi dan enkripsi data selama 20 tahun terakhir. Enkripsi secara bebas sering diterjemahkan sebagai salah satu metode pengacakan data, serangkaian modifikasi data asli menjadi pesan acak tanpa arti yang oleh penerima bisa dikembalikan dalam bentuk asli dengan kunci-kunci tertentu. Ilmu yang mempelajari pengacakan data disebut kriptografi. Salah produk RSA yang populer adalah key banking untuk transaksi keuangan online ribuan nasabah bank di dunia. </font></p>
<p align="justify"> <font color="#000000" face="helvetica" size="2">Ada tiga figur di balik lahir dan besarnya RSA, yaitu Rivest, Shamir, dan Adleman. Tiga serangkai ahli matematika inilah pendiri RSA di tahun 1977. RSA diambil sebagai gabungan dari hurup depan nama ketiga orang tersebut. Tahun 2002 lalu mereka bertiga menerima penghargaan ACM Turing Award. Ingat Alan Turing? Dia adalah penemu mesin turing yang notabene adalah cikal bakal komputer. </font></p>
<p align="justify"> <font color="#000000" face="helvetica" size="2">Profesor Ronald Lorin Rivest yang lahir di New York tahun 1947 adalah seorang kriptolog dan professor di Departemen Elektro dan Ilmu Komputer Institut Teknologi Massachuset (MIT). Rivest memperoleh gelar sarjana matematika dari universitas Yale tahun 1969, sedangkan gelar doktor diraihnya tahun 1974 dari Universitas Stanford. </font></p>
<p align="justify"> <font color="#000000" face="helvetica" size="2">Rivest adalah penemu algoritma enkripsi kunci simetris RC2, RC4, RC5 dan co-inventor RC6. RC berarti &#8220;Rivest Cipher&#8221; atau &#8220;Ron&#8217;s Code&#8221;. Rivest juga yang menyusun algoritma kriptografi MD2, MD4, dan MD5. Tahun 2006 Profesor Rivest menemukan sistem pemungutan suara ThreeBallot. Sebuah inovasi sistem pemungutan suara yang menyatukan kemampuan pemilih untuk melihat bahwa pilihannya dihitung namun privasinya juga aman. Perhatiannya pada masalah pemungutan suara yang fair sebagai wujud demokrasi membawa dirinya sebagai anggota Election Assistance Commission&#8217;s Technical Guidelines Development Committee yang membantu KPU di negeri Paman Sam menyusun petunjuk sistem pemungutan suara mandiri. Profesor Rivest juga anggota National Academy of Engineering, National Academy of Sciences, Association for Computing Machinery, International Association for Cryptographic Research, serta American Academy of Arts and Sciences. </font></p>
<p align="justify"> <font color="#000000" face="helvetica" size="2">Adi Shamir lahir 1952 di Tel Aviv, Israel. Mendapat gelar sarjana matematika dari Universitas Tel Aviv tahun 1973, kemudian M.Sc. (1975) dan Ph.D. (1977) bidang ilmu komputer dari Weizmann Institute. Tahun 1977-1980, Shamir melakukan penelitian di MIT, tempat di mana kelak bertemu dua koleganya dan membuat &#8216;sejarah&#8217; dunia enkripsi data. </font></p>
<p align="justify"> <font color="#000000" face="helvetica" size="2">Selain mendirikan RSA, Shamir juga menyumbang banyak inovasi dan kontribusi pada dunia kriptografi, termasuk skema Shamir secret sharing, memecahkan sistem kripto Merkle-Hellman, kriptografi visual, dan lain-lain. Di luar bidang keamanan data, Shamir juga turut andil dalam perkembengan ilmu komputer seperti menunjukan persamanan aplikasi rangkaian elektronik PSPACE dan IP (internet protocol). </font></p>
<p align="justify"> <font color="#000000" face="helvetica" size="2">Sedangkan Leonard Max Adleman yang lahir pada 31 Desember 1945 adalah profesor ilmu komputer dan biologi molekuler di Universitas Southern California. Meski lahir di California, Adleman besar di San Fransisco. Tahun 1968 merampungkan studi matematika dan meraih gelar sarjana dari Universitas California, Berkeley. Di universitas yang sama gelar doktor tahun 1976 didapatkannya. </font></p>
<p align="justify"> <font color="#000000" face="helvetica" size="2">Selain dikenal sebagai penemu enkripsi RSA, Adleman juga populer dalam bidang komputasi berbasis DNA. Dalam papernya berjudul Molecular Computation of Solutions To Combinatorial Problems tahun 1994 mendeskripsikan penggunaan DNA untuk basis sistem komputasi dalam aplikasi nyata. Dalam penelitian tersebut Adleman memecahkan masalah tujuh titik Hamiltonian Graph. Meski kelihatan sepele tetapi paper ini terkenal sebagai referensi ilmiah pertama yang sukses menggunakan DNA untuk menghitung algoritma. Komputasi DNA telah lama dilihat potensial untuk memecahkan masalah-masalah kompleks lain di dunia bisnis nyata. </font></p>
<p align="justify"> <font color="#000000" face="helvetica" size="2">Menurut Fred Cohen dalam paper ilmiahnya berjudul Experiments with Computer Viruses tahun 1984, Adleman sebagai orang yang pertama mendefiniskan kata &#8220;virus komputer&#8221;. Selain itu, Adleman adalah juga konsultan perhitungan matematis untuk film &#8220;Sneakers&#8221;. </font></p>
<p> <font color="#000000" face="helvetica" size="2">  <em><u>Sumber</u> : <a href="http://www.pikiran-rakyat.co.id/" onmouseover="window.status='ke situs ini';return true" style="text-decoration: none" target="_top">Pikiran Rakyat (24 Mei 2007)</a><br />
</em></font><font color="#000000" face="helvetica" size="2"><em>http://www.komputasi.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&amp;1181218416&amp;1</p>
<p>http://en.wikipedia.org/wiki/RSA</p>
<p>http://en.wikipedia.org/wiki/Ron_Rivest</p>
<p>http://en.wikipedia.org/wiki/Adi_Shamir</p>
<p>http://en.wikipedia.org/wiki/Leonard_Adleman</em></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/19/rivest-shamir-adleman-tiga-serangkai-master-enkripsi-data/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Misteri Bilangan Nol (0)</title>
		<link>http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/18/misteri-bilangan-nol-0/</link>
		<comments>http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/18/misteri-bilangan-nol-0/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jun 2007 09:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tahukah Anda?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/18/misteri-bilangan-nol-0/</guid>
		<description><![CDATA[RATUSAN tahun yang lalu, manusia hanya mengenal 9 lambang bilangan yakni 1, 2, 2, 3, 5, 6, 7, 8, dan 9. Kemudian, datang angka 0, sehingga jumlah lambang bilangan menjadi 10 buah. Tidak diketahui siapa pencipta bilangan 0, bukti sejarah &#8230; <a href="http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/18/misteri-bilangan-nol-0/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						RATUSAN tahun yang lalu, manusia hanya mengenal 9  						lambang bilangan yakni 1, 2, 2, 3, 5, 6, 7, 8, dan 9.  						Kemudian, datang angka 0, sehingga jumlah lambang  						bilangan menjadi 10 buah. Tidak diketahui siapa pencipta  						bilangan 0, bukti sejarah hanya memperlihatkan bahwa  						bilangan 0 ditemukan pertama kali dalam zaman Mesir kuno.  						Waktu itu bilangan nol hanya sebagai lambang.Dalam zaman  						modern, angka nol digunakan tidak saja sebagai lambang,  						tetapi juga sebagai bilangan yang turut serta dalam  						operasi matematika. Kini, penggunaan bilangan nol telah  						menyusup jauh ke dalam sendi kehidupan manusia. Sistem  						berhitung tidak mungkin lagi mengabaikan kehadiran  						bilangan nol, sekalipun bilangan nol itu membuat  						kekacauan logika. Mari kita lihat</font></p>
<p><span id="more-6"></span></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						<strong>Nol, penyebab komputer macet</strong></font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						Pelajaran tentang bilangan nol, dari sejak zaman dahulu  						sampai sekarang selalu menimbulkan kebingungan bagi para  						pelajar dan mahasiswa, bahkan masyarakat pengguna.  						Mengapa? Bukankah bilangan nol itu mewakili sesuatu yang  						tidak ada dan yang tidak ada itu ada, yakni nol. Siapa  						yang tidak bingung? Tiap kali bilangan nol muncul dalam  						pelajaran Matematika selalu ada ide yang aneh. Seperti  						ide jika sesuatu yang ada dikalikan dengan 0 maka  						menjadi tidak ada. Mungkinkah 5*0 menjadi tidak ada? (*  						adalah perkalian). Ide ini membuat orang frustrasi.  						Apakah nol ahli sulap?</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						Lebih parah lagi-tentu menambah bingung-mengapa 5+0=5  						dan 5*0=5 juga? Memang demikian aturannya, karena nol  						dalam perkalian merupakan bilangan identitas yang sama  						dengan 1. Jadi 5*0=5*1. Tetapi, benar juga bahwa 5*0=0.  						Waw. Bagaimana dengan 5o=1, tetapi 50o=1 juga? Ya,  						sudahlah. Aturan lain tentang nol yang juga misterius  						adalah bahwa suatu bilangan jika dibagi nol tidak  						didefinisikan. Maksudnya, bilangan berapa pun yang tidak  						bisa dibagi dengan nol. Komputer yang canggih bagaimana  						pun akan mati mendadak jika tiba-tiba bertemu dengan  						pembagi angka nol. Komputer memang diperintahkan  						berhenti berpikir jika bertemu sang divisor nol.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						<strong>Bilangan nol: tunawisma</strong></font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						Bilangan disusun berdasarkan hierarki menurut satu garis  						lurus (<strong>Gambar 1a</strong>). Pada titik awal adalah  						bilangan nol, kemudian bilangan 1, 2, dan seterusnya.  						Bilangan yang lebih besar di sebelah kanan dan bilangan  						yang lebih kecil di sebelah kiri. Semakin jauh ke kanan  						akan semakin besar bilangan itu. Berdasarkan derajat  						hierarki (dan birokrasi bilangan), seseorang jika  						berjalan dari titik 0 terus-menerus menuju angka yang  						lebih besar ke kanan akan sampai pada bilangan yang  						tidak terhingga. Tetapi, mungkin juga orang itu sampai  						pada titik 0 kembali. Bukankah dunia ini bulat?  						Mungkinkah? Bukankah Columbus mengatakan bahwa kalau ia  						berlayar terus-menerus ia akan sampai kembali ke Eropa?</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						Lain lagi. Jika seseorang berangkat dari nol, ia tidak  						mungkin sampai ke bilangan 4 tanpa melewati terlebih  						dahulu bilangan 1, 2, dan 3. Tetapi, yang lebih aneh  						adalah pertanyaan mungkinkan seseorang bisa berangkat  						dari titik nol? Jelas tidak bisa, karena bukankah titik  						nol sesuatu titik yang tidak ada? Aneh dan sulit  						dipercaya? Mari kita lihat lebih jauh.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						Perhatikan garis bilangan (<strong>Gambar 1a</strong>), di antara  						dua bilangan atau antara dua buah titik terdapat sebuah  						ruas. Setiap bilangan mempunyai sebuah ruas. Jika ruas  						ini dipotong-potong kemudian titik lingkaran hitam  						dipindahkan ke tengah-tengah ruas (<strong>Gambar 1b</strong>),  						ternyata bilangan 0 tidak mempunyai ruas. Jadi, bilangan  						nol berada di awang-awang. Bilangan nol tidak mempunyai  						tempat tinggal alias tunawisma. Itulah sebabnya, mengapa  						bilangan nol harus menempel pada bilangan lain, misalnya,  						pada angka 1 membentuk bilangan 10, 100, 109, 10.403 dan  						sebagainya. Jadi, seseorang tidak pernah bisa berangkat  						dari angka nol menuju angka 4. Kita harus berangkat dari  						angka 1.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						<strong>Mudah, tetapi salah</strong></font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						Guru meminta Ani menggambarkan sebuah garis geometrik  						dari persamaan 3x+7y = 25. Ani berpikir bahwa untuk  						mendapatkan garis itu diperlukan dua buah titik dari  						ujung ke ujung. Tetapi, setelah berhitung-hitung,  						ternyata cuma ada satu titik yang dilewati garis itu,  						yakni titik A(6, 1), untuk x=6 dan y=1 (<strong>Gambar 2</strong>).  						Sehingga Ani tidak bisa membuat garis itu. Sang guru  						mengingatkan supaya menggunakan bilangan nol. Ya, itulah  						jalan keluarnya. Pertama, berikan y=0 diperoleh  						x=(25-0)/3=8 (dibulatkan), merupakan titik pertama,  						B(8,0). Selanjutnya berikan x=0 diperoleh y=(25-3.0)/7=4  						(dibulatkan), merupakan titik kedua C(0,4). Garis BC,  						adalah garis yang dicari. Namun, betapa kecewanya sang  						guru, karena garis itu tidak melalui titik A. Jadi,  						garis BC itu salah.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						Ani membela diri bahwa kesalahan itu sangat kecil dan  						bisa diabaikan. Guru menyatakan bahwa bukan kecil  						besarnya kesalahan, tetapi manakah yang benar? Bukankah  						garis BC itu dapat dibuat melalui titik A? Kata guru,  						gunakan bilangan nol dengan cara yang benar. Bagaimana  						kita harus membantu Ani membuat garis yang benar itu?  						Mudah, kata konsultan Matematika. Mula-mula nilai 25  						dalam 3x+7y harus diganti dengan hasil perkalian 3 dan 7  						sehingga diperoleh 3x+7y=21. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						Selanjutnya, dalam persamaan yang baru, berikan y=0  						diperoleh x=21/3=7 (tanpa pembulatan) itulah titik  						pertama P(6,1). Kemudian berikan nilai x=0 diperoleh  						y=21/7 = 3 (tanpa pembulatan), itulah titik kedua Q(0,  						3). Garis PQ adalah garis yang sejajar dengan garis yang  						dicari, yakni 3x+7y=25. Melalui titik A tarik garis  						sejajar dengan PQ diperoleh garis P1Q1. Nah, begitulah.  						Sang murid telah menemukan garis yang benar berkat  						bantuan bilangan nol.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						Akan tetapi, sang guru masih sangat kecewa karena  						sebenarnya tidak ada satu garis pun yang benar. Bukankah  						dalam persamaan 3&#215;1+7&#215;2=25 hanya ada satu titik  						penyelesaian yakni titik A, yang berarti persamaan  						3&#215;1+7&#215;2 itu hanya berbentuk sebuah titik? Bahkan pada  						persamaan 3&#215;1+7&#215;2=21 tidak ada sebuah titik pun yang  						berada dalam garis PQ. Oleh karena itu, garis PQ dalam  						sistem bilangan bulat, sebenarnya tidak ada. Aneh,  						bilangan nol telah menipu kita. Begitulah kenyataannya,  						sebuah persamaan tidak selalu berbentuk sebuah garis.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						<strong>Bergerak, tetapi diam</strong></font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						Bilangan tidak hanya terdiri atas bilangan bulat, tetapi  						juga ada bilangan desimal antara lain dari 0,1; 0,01;  						0,001; dan seterusnya sekuat-kuat kita bisa menyebutnya  						sampai sedemikian kecilnya. Karena sangat kecil tidak  						bisa lagi disebut atau tidak terhingga dan pada akhirnya  						dianggap nol saja. Tetapi, ide ini ternyata sempat  						membingungkan karena jika bilangan tidak terhingga  						kecilnya dianggap nol maka berarti nol adalah bilangan  						terkecil? Padahal, nol mewakili sesuatu yang tidak ada?  						Waw. Begitulah.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> 						Berdasarkan konsep bilangan desimal dan kontinu, maka  						garis bilangan pada <strong>Gambar 1a</strong> tidak sesederhana  						itu karena antara dua bilangan selalu ada bilangan ke  						tiga. Jika seseorang melompat dari bilangan 1 ke  						bilangan 2, tetapi dengan syarat harus melompati  						terlebih dahulu ke bilangan desimal yang terdekat,  						bisakah? Berapakah bilangan desimal terdekat sebelum  						sampai ke bilangan 2? Bisa saja angka 1/2. Tetapi, anda  						tidak boleh melompati ke angka 1/2 karena masih ada  						bilangan yang lebih kecil, yakni 1/4. Seterusnya selalu  						ada bilangan yang lebih dekat&#8230; yakni 0,1 lalu ada  						0,01, 0,001, &#8230;, 0,000001. demikian seterusnya,  						sehingga pada akhirnya bilangan yang paling dekat dengan  						angka 1 adalah bilangan yang demikian kecilnya sehingga  						dianggap saja nol. Karena bilangan terdekat adalah nol  						alias tidak ada, maka Anda tidak pernah bisa melompat ke  						bilangan 2? </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="1"> 						Yusmichad Yusdja,Staf peneliti pada Pusat Penelitian dan  						Pengembangan Sosial dan ekonomi Pertanian IPB</font></p>
<p><font size="1">Sumber: <a href="http://www.kompas.com/">Kompas  						Cyber Media &amp; http://www.duniaesai.com/sains/sains16.htm<br />
</a></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/18/misteri-bilangan-nol-0/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Medali Tertinggi Bidang Matematika</title>
		<link>http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/12/medali-tertinggi-bidang-matematika/</link>
		<comments>http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/12/medali-tertinggi-bidang-matematika/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jun 2007 07:26:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tahukah Anda?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/12/medali-tertinggi-bidang-matematika/</guid>
		<description><![CDATA[Medali Fields adalah penghargaan yang diberikan kepada dua hingga empat matematikawan yang berusia kurang dari 40 tahun pada Kongres Internasional Persatuan Matematika Internasional. Penghargaan ini diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Pertama kali dianugerahkan pada tahun 1936, Medali Fields mengambil namanya &#8230; <a href="http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/12/medali-tertinggi-bidang-matematika/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="postentry"><em><strong>Medali Fields </strong></em>adalah penghargaan yang diberikan kepada dua hingga empat matematikawan yang berusia kurang dari 40 tahun pada Kongres Internasional Persatuan Matematika Internasional. Penghargaan ini diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Pertama kali dianugerahkan pada tahun 1936, Medali Fields mengambil namanya dari sang penggagas, matematikawan Kanada John Charles Fields dan telah diselenggarakan secara berkala sejak tahun 1950. Penghargaan ini adalah salah satu penghargaan tertinggi bagi matematikawan. Hadiah bagi sang pemenang (untuk tahun 2006) adalah US$13.400.</p>
<p>Sumber : <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Fields_Medal" title="Fields Medal - Matematika">Wikipedia</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://math.antarmedia.com/usu/2007/06/12/medali-tertinggi-bidang-matematika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

